Balada Cinta Sang Presdir
tanyanya, nadanya lebih hangat dari sebelumnya.
Lara tersenyum, meletakkan piring di meja. “Udang asam manis sama ayam rica-rica, Ibu. Rina bantu bikin sambalnya,” katanya, nadanya penuh semangat.
Mereka duduk bersama, makan dalam suasana yang lebih ringan. Tawa kecil Rina dan pujian Maharani pada masakan Lara mengisi ruangan, mencairkan ketegangan yang sempat ada. Andreas menatap Lara dari samping, matanya penuh cinta—ia tahu, meski badai pengadilan masih menanti, ia tak lagi berjalan di tepi jurang sendirian.
Chapitres populaires