Sentuhan Adik Sahabatku
Laptop terbuka di pangkuannya, layarnya memantulkan cahaya dingin ke wajahnya yang kaku.
Deretan data yang baru saja dikirimkan oleh orang suruhannya terpampang rapi dan sangat lengkap. Mulai dari nama Jennar, orang tua dan pekerjaan mereka, alamat, hingga riwayat keluarga.
Jari Herman berhenti di satu bagian. Sudut bibirnya terangkat tipis—bukan senyum, melainkan garis tipis kemarahan yang menemukan sasaran. “Jadi, kamu punya adik yang masih kuliah,” gumamnya pelan.