Antara Cinta dan Luka
gumamnya, jari-jarinya gemetar di atas lembaran lirik yang penuh coretan.
Hujan di luar semakin deras, menyamarkan klakson Jakarta yang sibuk, tapi tak bisa menyembunyikan beban di dadanya—tagihan rumah sakit ibunya menumpuk, dan mimpi sebagai penulis lagu seolah semakin jauh. Piano ini, satu-satunya warisan dari Budi Santoso, ayahnya, sekarang terasa seperti kutukan, bukan berkah. Setiap nada yang ia mainkan seperti mengulang pengkhianatan itu: ayahnya tersenyum saat mengajarinya bermain, lalu pergi tanpa pamit, meninggalkan ibunya menangis di dapur.
"Naya, obatku!" jerit Bu Ratna dari kamar sebelah, suaranya lemah tapi mendesak, memecah keheningan ruangan yang lembab.