Air Mata si Kupu-Kupu Malam
tanggap Lucky santai.
"Tapi mereka pasti bakal cari tahu. Aku pasti dicemooh sama mereka, tunangan sama pelanggan sendiri." Laura menggeleng-geleng, masih tidak terima.
Lucky diam saja.
Laura menatap jalanan dengan kesal sembari bersidekap dada. Dari jauh sini, gedung Mall yang tinggi itu sudah terlihat, tak lama lagi mereka sampai. Namun, di pinggir jalan sana, Laura sempat menangkap sosok anak kecil berjalan kaki. Dari kejauhan baju kaos yang dia kenakan tampak lusuh, rambut panjangnya yang diikat menandakan dia perempuan. Anak itu terus berjalan kemari sambil menunduk, memegangi kaleng kecil. Sosoknya semakin dekat seiring mobil Lucky terus melaju ke arahnya.