Selir Yang Terlupakan
Ia menoleh sedikit ke arah jendela, di mana cahaya oranye terakhir matahari kini sudah sepenuhnya menghitam.
"Aku hanya ingin memastikan... apakah kau benar-benar nyata," ucapnya akhirnya. Suaranya kini tak lagi berwibawa, terdengar hampa dan lelah. "Empat tahun, Lianhua. Aku menghabiskannya di lumpur dan darah di garis depan, hampir tak memikirkan hal lain selain berjuang pulang ke istana yang terasa seperti kuburan mewah. Dan setiap kali aku teringat tempat ini... aku teringat padamu. Hanya sebuah nama di dalam daftar panjang, wajah yang hampir tak bisa kuingat lagi bentuknya."