Selir Yang Terlupakan
"Duduklah."
Aku duduk dengan tenang. "Apa yang sedang Anda kerjakan, Yang Mulia?"
"Laporan dari perbatasan," jawabnya sambil mengetuk tumpukan gulungan itu pelan. "Perang mungkin sudah berakhir, tapi perdamaian ini masih rapuh. Banyak yang berpikir kekaisaran lemah saat aku pergi, dan kini mereka mulai mencari celah untuk menyerang."
Beliau menyandarkan punggung, bayangan makin pekat menyelimuti separuh wajahnya. Cahaya lentera menonjolkan garis lelah yang tak terlihat saat upacara tadi.