Kukira Dia Cinta, Ternyata Pemberi Luka
Lalu, terdengar suara tawa Riko yang lembut sembari berkata, "Anak nakal, biarkan saja. Menangis sedikit bisa melatih paru-parunya."
Aku menutup kepala dengan selimut, berusaha keras menahan diri agar tidak mendengar suara mereka. Namun, begitu memejamkan mata, yang muncul di benakku justru bayangan Riko saat pertama kali menyatakan cinta padaku.
Senyumnya cerah, tatapannya lembut, seluruh dunia seolah hanya ada aku di dalamnya.
Namun, kini, lelaki itu bukan lagi milikku.