Pustaka
Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Kematian yang Diharapankan Suamiku

Kematian yang Diharapankan Suamiku

teriak Yurike yang menerjang ke arah tempat dudukku dengan kondisi setengah gila. Pergelangan tangan Yurike penuh memar dan wajahnya juga memiliki luka yang terlihat jelas. Selama bertahun-tahun ini, sepertinya kehidupannya juga tidak begitu baik. Yurike mencengkeram lenganku dengan erat. "Semua orang mencarimu seperti orang gila. Cepat ikut aku pulang. Asal kamu pulang, Papa, Mama, dan Bobby nggak akan pukul aku lagi. Mereka selalu bilang aku yang menyebabkan kematianmu dan memaksaku menebus kesalahanku padamu ...."
4.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 142 kali sebagai maka di hari kematianku kawan
Baca
+Pustaka
Who are you (Indonesia)

Who are you (Indonesia)

Hari ini adalah Kamis sore, tepatnya nanti malam adalah Jumat kliwon yang dalam weton jawa adalah hari dimana kita harus mengirimkan doa kepada saudara dan kerabat yang sudah meninggal. Ku usap batu nisan yang bertuliskan nama kedua orang tuaku, tak pernah terbesit sedikitpun mereka akan meninggalkanku disaat keadaan yang benar-benar sulit bagiku. "Ma.. Pak.. Maafin Adit belum bisa menjadi anak yang berbakti sepenuhnya, doakan Adit supaya bisa mempunyai bahu yang kuat seperti Bapak dan penuh kasih sayang serta perhatian seperti Mama.." ucapku lirih sambil menahan air mataku.
103.8K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 124 kali sebagai maka di hari kematianku kawan
Baca
+Pustaka
BOUND IN BLOOD

BOUND IN BLOOD

"Aku pikir aku akan kehilanganmu lagi." Dadaku terasa sesak. "Aku tidak akan mati." "Jangan mengatakan sesuatu yang tidak bisa kau jamin." Aku tersenyum kecil. "Kalau aku mati, siapa yang akan membuatmu kesal setiap hari?" Rowan tidak tertawa. Ia justru berjalan mendekat. "Jangan bercanda tentang kematian." Aku menunduk. "Maaf."
272 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 6 kali sebagai maka di hari kematianku kawan
Baca
+Pustaka
Di Kala Kematian Anak Kembarku

Di Kala Kematian Anak Kembarku

Pecahan porselen berserakan di lantai. Aku menoleh melihat guci abu, tapi guci yang berisi abu kremasi Misya sudah tidak ada lagi. Pikiranku seketika kosong. Aku lupa cara bernapas, seolah setiap detak jantungku diremas dengan sangat keras. "Ah!" "Misya!" "Misya-ku sayang ...." "Marcel, Misya sudah mati mengenaskan, kenapa kamu tega melempar abunya? Apa kamu masih punya hati?!"
4.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 135 kali sebagai maka di hari kematianku kawan
Baca
+Pustaka
Aku Di Sebelahmu, Tapi Jiwamu Tak Bersamaku

Aku Di Sebelahmu, Tapi Jiwamu Tak Bersamaku

Dia mengenakan gaun putih. Dengan mata memerah, dia berlutut di depan Tristan. Wajahnya penuh permohonan. "Pak Tristan, aku benar-benar nggak bisa hidup lagi! Setelah dipecat, aku ingin cari kerja, tapi semua perusahaan menolakku. Ibuku mengalami kecelakaan, butuh uang segera. Bahkan dokter pun nggak bisa kami panggil!"
3.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 86 kali sebagai maka di hari kematianku kawan
Baca
+Pustaka
Di Hari Aku Meninggalkan Suamiku

Di Hari Aku Meninggalkan Suamiku

Ia harus menunjukkan kekuatan, atau setidaknya, ilusi kekuatan. "Kau mengunciku di kamar, mengambil ponselku, mengisolasi aku sepenuhnya," lanjutnya, suaranya mulai bergetar meski ia berusaha keras mengendalikannya. "Kau menghinaku di pemakaman Luna, di hadapan semua orang. Kau menyebutku pembunuh, seolah aku tidak menderita. Apakah menurutmu aku bisa tidur nyenyak setelah semua itu?"
575 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 14 kali sebagai maka di hari kematianku kawan
Baca
+Pustaka
Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati

Tubuhku Hidup, Jiwaku Telah Mati

Aku lupa, aku sudah meninggal. Sebelum meninggal, ekspresiku menderita dan kedua tanganku mencengkeram erat dadaku. Rasa sesak yang menyesakkan membuatku benar-benar putus asa. Namun, saat itu aku masih berharap kakakku bisa membuka pintu dan membawaku ke rumah sakit. Akan tetapi, tidak ada apa-apa. Kesadaranku mulai buyar dan pandanganku perlahan-lahan kabur. Aku hanya masih bisa mendengar sedikit. Saat itu, aku mendengar Aslan memerintah pembantu di luar pintu, "Tanpa izinku, jangan kasih dia makan atau minum."
5.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 158 kali sebagai maka di hari kematianku kawan
Baca
+Pustaka
Menghadapi Kematian di Depan Mata

Menghadapi Kematian di Depan Mata

Merasa diabaikan, dia memilih menusuk tubuhnya sendiri dengan alat peraga di panggung. Dia meninggal seketika. Di pemakamannya, aku sangat sedih, tetapi kedua kakakku memelukku erat dan menghiburku. "Jangan salahkan dirimu, setidaknya kamu masih selamat." Namun, pada malam itu juga, mereka mengikatku dan mengirimku kepada sekelompok pemabuk. Di tengah kegelapan, mata kakak sulungku bersinar menyeramkan. "Kenapa kamu masih punya nyali untuk hidup di dunia ini?"
8.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 178 kali sebagai maka di hari kematianku kawan
Baca
+Pustaka
Mati Untuk Hidup

Mati Untuk Hidup

Dia juga melemparkan tangan Satria yang diletakkan di punggungnya, dengan mata merah dan basah penuh kebencian. Tetapi, anakku, bukankah kamu paling benci jika aku ikut campur dalam hidupmu? Bukankah kamu selalu merasa aku seperti orang gila, dan berharap aku berada sejauh mungkin darimu? Kenapa kamu, yang begitu menginginkan kematianku, malah jadi begini setelah keinginan itu menjadi kenyataan? Mertuaku duduk di samping dengan rasa bersalah. "Aku juga nggak tahu, penyakit ini bisa membuatnya meninggal begitu saja ...."
7.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 213 kali sebagai maka di hari kematianku kawan
Baca
+Pustaka
Dendam Setelah Kematian Suamiku

Dendam Setelah Kematian Suamiku

Dia terlihat berkaca-kaca dan berterima kasih padaku. Begitu jenazah selesai dimandikan dan dikafani, Valeri dan Mas Ghazali diminta untuk mengucapkan salam terakhir dan mencium anak mereka, itu adalah momen paling menyakitkan karena aku melihat dengan jelas kehancuran dan Tangis suamiku, rasanya berat melepaskan, tapi jenazah harus segera dimakamkan. Aku juga memeluk alisa untuk terakhir kalinya dan membisikkan kata-kata perpisahan. "Suatu hari kita jumpa lagi ya Sayang, temui ibu di surga nanti." Aku menciumnya sambil menghalau air mata yang membayang di netraku.
104.1K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 132 kali sebagai maka di hari kematianku kawan
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
45678
...
10
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status