AKU BUKAN SEORANG PELACUR
Aku mendorong dadanya, dan bangun.
Satu tamparan di pipinya dari telapak tanganku. Pinggangku berbalik.
“Berengsek!”
“Tuhan, aku tidakㅡ”
Air mataku menetes ketika langsung kuseret kakiku untuk masuk, dan kubanting pintu kamar dengan keras hingga menciptakan bunyi nyaring. Suaranya yang memanggilku terdengar, bahkan ketika aku sudah menyembunyikan kepalaku agar tenggelam jauh di balik bantal. Jelas. Aku masih bisa mendengar bunyi ketukan berulang kali di pintuku, dan dia yang mencoba menjelaskan kalau kakinya terpeleset sehingga membuat tubuhnya jatuh menimpaku. Aku menggeleng. Sekarang, satu hal mengisi kepalaku; aku ingin percaya itu, namun aku tidak ingin percaya itu.