AKU BUKAN SEORANG PELACUR
“APA-APAAN KAU, BERENGSEK?! KAU INGIN MEROBEK KULIT MULUSKU, HAH?! DASAR PELACUR TOLOL!”
Aku memukuli dadaku, dan turun dari ranjang. Berbeda dengan lelaki tua malam itu, lelaki ini sama sekali tidak memiliki kelembutannya kepadaku. Gerry memang bilang kalau malam ini aku cuma harus memberinya sebuah oral, semacamnya, dan itu benar. Namun, caranya menyuruhku sangat tidak manusiawi. Sejak pertama, pada saat aku masuk ke dalam ruangan ini, dia sudah melepaskan celananya, dan sedang berbaring di kasur dengan sabuk yang tiba-tiba dia lemparkan, mengenai dadaku, pun, sekarang, aku harus merasakan leherku yang kebas, serta rahang yang sakit.