Jerat Cinta Mafia Hyper
Dia tersenyum miring, jemarinya yang lentik memutar gelas wine dengan gerakan lamba, seolah sedang menghitung sisa waktuku di dunia ini.
“Namaku Selena,” katanya, suaranya halus namun menusuk. “Mantan tunangannya. Wanita yang kursinya kau duduki sekarang.”
“Aku tidak peduli,” balasku kaku. Aku mencoba terdengar berani, meski tanganku mencengkeram gelas champagne begitu erat hingga buku jariku memutih. “Gelar ini bukan pilihanku. Dia yang menyematkannya.”