Terjerat Hasrat Nyonya Muda
Tap!
Tiba-tiba terdengar langkah kaki mendekat di lorong. Eliza buru-buru mengusap wajahnya, berusaha menghapus jejak kesedihan sebelum pintu kamarnya terbuka. Bunyi engsel berderit membuat jantungnya berdegup kencang. Di ambang pintu berdirilah Mark, membawa wajah serius khasnya, sementara seorang pelayan menyusul di belakang, mengusung nampan penuh makanan. Aroma sup hangat menyeruak, tapi sama sekali tak membangkitkan selera Eliza.
“Makanlah, kau sudah tiga hari tidak makan,” ujar Mark datar, namun tegas.