Mengungkapkan perasaan tulus kepada orang tua itu seperti menyusun puzzle emosi—kadang sulit dicari kata yang pas, tapi begitu terkumpul, rasanya lengkap banget. Aku sering mikir, orang tua itu seperti batu karang yang selalu ada, bahkan ketika kita lupa mengucap terima kasih. Mulailah dari hal kecil: 'Mak, aku nggak pernah bilang ini, tapi aku selalu ingat waktu dulu Mama jagain aku sakit semalaman.' Atau 'Pak, terima kasih udah kerja keras buat kita sekeluarga.' Kalimat sederhana yang spesifik itu lebih bermakna daripada ucapan umum seperti 'Aku sayang kalian'.
Konteks juga penting. Coba sesuaikan dengan momen—misal pas lagi makan malam bareng, atau sambil bantu ibu cuci piring. Nggak perlu dramatis, yang alami aja. Pernah aku tulis surat buat ultah bapak, isinya kenangan-kenangan receh kayak 'Aku paling suka pas kecil diajak papa beli es krim sepulang sekolah'. Eh, malah bikin dia mewek. Ternyata detail kecil justru paling menusuk hati.
Kalau merasa canggung ngomong langsung, bisa pakai media lain. Buat video pendek berisi foto-foto keluarga dari dulu sampai sekarang, kasih caption 'Terima kasih udah nemenin setiap tahap hidupku'. Atau rekam podcast 5 menit berisi curhatan tentang pelajaran hidup dari orang tua. Yang penting authenticity—jangan karena tren TikTok atau ekspektasi sosial. Mereka bisa lho bedain mana yang dari hati mana yang sekadar formalitas.
Untuk generasi yang lebih tua, kadang tindakan lebih bermakna daripada kata-kata. Bantu membereskan atap yang bocor, anter ke dokter gigi, atau peluk lama-lama pas Lebaran. Ada temenku yang setiap minggu video call cuma tunjukin tanaman di pot baru—itu jadi bahasa kasih mereka. Intinya sih, tunjukkan bahwa mereka tetap menjadi bagian aktif dalam hidupmu, bukan sekadar kenangan masa lalu.