MENANTU MUSUHKU
Matahari siang mulai bergeser, menciptakan cahaya hangat yang justru terasa kontradiktif dengan dingin yang merayap di tubuhnya.
Sinta, pelayan rumah, datang membawa minuman hangat. “Ini wedang jahenya. Tuan Arga bilang Nyonya mudah masuk angin.”
Delia menatap cangkir itu, bingung. “Arga bilang begitu?”
“Iya, Nyonya,” Sinta mengangguk lembut. “Beliau menyebutkannya sambil lalu.”
Delia tidak tahu harus tersenyum atau semakin takut. Jika Arga memperhatikan hal sekecil itu, artinya lelaki itu mempelajari dirinya. Menilai langkahnya. Menganalisis setiap kelemahannya.
Hot Chapters