PERNIKAHAN PELUNAS HUTANG
Akash mengusap pipi Asha dengan punggung tangannya, segaris senyum hadir di wajahnya.
“Tembok tinggi yang aku bangun itu, perlahan rapuh. Aku gak tahu ini namanya cinta atau bukan, tapi kamu punya posisi sendiri di hatiku.” Akash menatap lekat netra milik Asha, “Aku gak suka lihat orang lain memperhatikanmu lebih dari aku, aku gak suka orang lain melihatmu spesial, yang boleh cuma aku, aku… aku gak mau kamu pergi, i need you by my side.”
Mendengar itu hati Asha menghangat. Mungkin memang belum ada cinta yang benar-benar tumbuh dihatinya, tapi kata-kata Akash barusan cukup untuk membuat Asha menyerahkan kepercayaannya pada Akash.
Sikat na Kabanata