Ada sesuatu yang magis tentang cara 'Midnight Diaries' menggambarkan pergulatan batin seorang penulis muda di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Protagonis kita, seorang penulis fanzine underground, menemukan buku harian misterius di toko loak yang ternyata berisi catatan mimpi orang-orang dari berbagai zaman. Novel ini bukan sekadar thriller psikologis, tapi juga refleksi indah tentang bagaimana manusia terhubung melalui mimpi dan kecemasan yang sama.
Yang bikin aku jatuh cinta adalah detail atmosferiknya - dari bau kopi di warung tengah malam sampai desir daun di jalanan sepi. Hartigan benar-benar menguasai seni membangun dunia yang terasa hidup. Plotnya berliku lewat teka-teki mimpi yang perlahan terungkap, sementara si protagonis mulai mempertanyakan batas antara imajinasinya sendiri dengan realitas di dalam buku harian itu.