Ifat
Lampunya padam, kipasnya diam, seperti dikekang sang malam.
Aku mencoba mengingat semua fragmen yang aku lihat di dalam mimpiku. Semuanya samar, terpecah-pecah seumpama serpihan kaca.
Jika pun ada yang berhasil aku ingat, adalah ketika aku melihat bulan purnama di puncak sebuah menara. Seperti kiamat saja, saat aku melihat bulan purnama itu pecah dan lantas menjatuhi aku.
Aku menghirup nafas dalam-dalam, yang sekejap saja itu mengakibatkan rasa sakit dan sesak menikam di dada kiriku.
Hot Chapters