Setipis Benang Sutera
Mesin mobil itu mati akibat ketidak seimbangan rem, kopling dan gas.
"Astaghfirullah!" pekik Dr. Mahendra dan istrinya bersamaan.
Sejenak mereka hanya terdiam, menyelaraskan ritme pernapasan. Dan mengatur degub jantung yang tiba-tiba tak beraturan.
"Ada apa, Mario?" tanya Dr. Mahendra setelah merasa lebih tenang. Posisi mereka kini sudah memasuki area pegunungan. Jalanan terasa sunyi. Gelap, tidak ada penerangan walau mereka tengah berada di jalur utama, karena listrik di sekitar tengah padam. Mereka juga tak mendapati pengguna jalan lain yang berlalu lalang, itu mungkin karena kondisi di luar yang sedang hujan deras diikuti petir yang terus menyambar-nyambar. Suasananya benar-benar mencekam
Hot Chapters