Ibu Susu Polos Pak Boss
Sebagian besar bahasa asing bisa dengan mudah ia pahami, sebagian lagi bisa ia artikan setelah membuka g**gle, mencari arti kalimat demi kalimat—dan setiap kali tahu maknanya, dadanya terasa menghangat sekaligus perih.
Di sampingnya, Surti sibuk mengaturkan posisi karangan bunga, meluruskan pita yang miring, menggeser vas agar tak menghalangi lorong. Sesekali mulutnya bergumam lirih, entah doa atau penyesalan, sebelum matanya kembali tertuju pada pintu ICU dengan tatapan yang masih menyimpan rasa bersalah.
“Kamu mau makan, Nay?” tanya Surti pelan. “Aku beliin bubur di bawah, ya.”