MERTUA IDAMAN
“Udah, gak apa-apa. Lanjutkan di kamar sana! Ibu yang akan meletakkan kue tart ini di kotak. Oh, iya, pie ubi ungu hari ini ludes, Mir.”
“Alhamdulillah. Makasih, ya, Ibu.”
“Sama-sama, Mir. Udah, buruan ke kamar! Lanjutkan di kamar aja, jangan di dapur!”
“Ibuuuu ….” Aku mencubit pinggang Mas Yusuf karena telah membuatku malu.
“Manggil Ibu, kok, aku yang dicubit, sih, Sayang?”
“Gara-gara Mas Yusuf. Malu, kan, jadinya.”