KEMBALINYA SANG PEWARIS TRILIUNER
Aksa mengangguk, dan mereka berjalan bersama menuju ruang kerja.
Dita dan Aksa kembali ke ruang meeting. Aksa pun langsung mengajak mereka melanjutkan meeting tanpa menyadari ada alat perekam di dekat mereka.
“Jadi, intinya semua kafe ini menjual suasana fancy atau hipster.” Reno menggerakkan jari ke layar. “Konsep kekinian, foto Instagramable, playlist indie, cold brew mahal, semua begitu.”
Dita menyandarkan dagu pada punggung tangannya, menghela napas. “Kalau kita mau menang dari Darren, konsep kita harus punya jiwa. Harus beda.”