Selingkuh itu Ilmiah
"
—Catatan sore, Rayendra Mahendra
Kafe itu kecil, dindingnya bata ekspos dengan jendela kayu menghadap taman. Tak ada musik keras, hanya gemericik air dari kolam buatan. Namanya: Sunyi Sore—kontradiktif, tapi tepat untuk pertemuan tanpa agenda.
Rayendra tiba lebih dulu. Ia memesan teh hitam dan membuka buku catatan, tanpa menulis. Tangannya masih terbiasa menggenggam pulpen, tapi pikirannya tak ingin dituangkan. Ia hanya ingin hadir.
Lima belas menit kemudian, Inaya datang. Tanpa blazer, tanpa ransel riset. Kemeja linen hijau lumut, rambut diikat sederhana, wajahnya lelah.
Hot Chapters