Lembaran Baru Kisahku
Aku memotong kalimatnya dengan dingin, “Di depanku, kamu tidak perlu terus berpura-pura.”
Detik berikutnya, sorot mata Sinta berubah dingin dan penuh perhitungan. “Vera, posisi istri Omar ini sudah kamu serahkan dengan tanganmu sendiri. Kalau suatu hari kamu ingin merebutnya kembali, jangan harap bisa mudah!”
Ia mengambil surat cerai tersebut, kemudian melenggang masuk ke kamar. Tak lama kemudian, Sinta keluar lagi dan melemparkan surat perceraian yang sudah bertanda tangan ke hadapanku.