Ada perasaan campur aduk yang muncul setelah menyelesaikan 'Omniscient Reader'—seperti kehilangan teman dekat tapi juga puas dengan perjalanannya. Endingnya menghantam keras: Kim Dokja, sang 'pembaca', akhirnya mengorbankan dirinya sepenuhnya untuk menyelamatkan dunia dan orang-orang yang dicintainya. Tapi twist-nya? Dia ternyata masih 'hidup' dalam bentuk fragmen cerita yang dibaca oleh para karakter lain, termasuk Han Sooyoung yang menulis ulang kisahnya. Ini meta-narasi yang brilian; kita sebagai pembaca real pun diajak bertanya: apakah kita juga bagian dari 'cerita' yang lebih besar?
Yang bikin gregetan adalah bagaimana novel ini main-main dengan konsep 'pembaca' vs 'penulis'. Kim Dokja dan Han Sooyoung saling membentuk takdir masing-masing lewat teks, sampai akhirnya batas antara fiksi dan realitas kabur. Ending terbuka itu—dengan 'Dokja' mungkin kembali dalam bentuk lain—memberi rasa penasaran sekaligus harap. Setelah 500+ bab, closure-nya terasa pahit-manis tapi sangat... 'pas' untuk tema self-sacrifice dan cinta pada cerita yang diusungnya sejak awal.