Membaca novel-novel klasik seperti 'War and Peace' atau 'Middlemarch' selalu mengingatkanku pada kekuatan sudut pandang orang ketiga serba tahu. Naratornya seperti dewa yang melihat segalanya—tahu setiap rahasia karakter, bahkan yang tersembunyi di balik pikiran mereka. Misalnya, saat Tolstoy menggambarkan konflik batin Natasha Rostova, kita bukan hanya melihat tangisannya, tapi juga memahami ketakutan dan kerinduannya yang paling dalam. Kelebihan gaya ini adalah kemampuannya membangun dunia yang kaya, di mana pembaca diajak menyelami setiap sudut cerita tanpa batas. Tapi hati-hati, kalau tidak hati-hati, bisa jadi overload informasi yang bikin pusing.
Yang kusuka dari sudut pandang ini adalah fleksibilitasnya. Kita bisa melompat dari balik punggung protagonis ke antah berantah dalam satu paragraf, lihat perang dari atas bukit, lalu zoom-in ke detak jantung seorang prajurit. Tapi penulis jagoan biasanya pinter atur tempo—kayanya George R.R. Martin di 'A Song of Ice and Fire', di mana meski narator tahu segalanya, informasi tetap dikasih bertahap biar dramatis.