Tolong Perlahan, Dokter Nate!
“Tidak usah berpura-pura lagi, Ariel. Sandiwara ini hanya akan menyakiti semua orang lebih lama. Katakan saja yang sejujurnya pada dia. Katakan kalau kita sudah pacaran dan kau ingin putus darinya sekarang juga.”
Kata-kata itu menggema di ruangan sempit itu, memantul di dinding keramik dan menghantam kesadaran Andi dengan telak. Andi tertegun, tubuhnya sedikit goyah seolah baru saja menerima pukulan fisik di dada. Wajahnya yang semula memerah karena marah, kini berubah menjadi pucat pasi, pucat seperti mayat.
“Pacaran…?” Andi mengulang kata itu dengan suara lirih, nyaris seperti bisikan gaib. “Kalian… selama ini…?”