Jurnal Sang Dokter
Sore itu ada seorang wanita muda, remaja, baru lulus dari sekolah menengah atas, menjadi mahasiswa baru di sebuah perguruan tinggi ternama di Jakarta.
Namanya Savea, gadis manis berusia delapan belas tahun. Dia mendatangi klinik tempatku bekerja, dengan wajah yang sudah tidak lagi beraturan. Penuh dengan sisa sisa kesedihan yang terus diperbarui. Tangis yang kering, kemudian kembali basah, begitu seterusnya.
“Aku bukan SALOME, aku bukan SALOME,” teriak Savea histeris, begitu keras, lalu dia menutup wajahnya dengan kedua tangan.