Berangkat Miskin Pulang Kaya
“Alhamdulillah Paklik, sekarang makin rame, bukan hanya buka servis, tapi suplai ke perusahaan, sekolah, macam-macam, lah, Paklik. Semua saya jabanin.”
“Bagus, Pras. Memang harus begitu. Kalau Paklik dari dulu gak bisa bisnis. Ya, gitu, lah, ngandelin gaji dari negara terus.” Paklik merendah.
“Bisa melejit gitu usahamu, Pras. Kamu pake mistis, yo, untuk menggaet pembeli.”
Paklik Nugroho terkekeh, aku tersenyum. “Ibu ada-ada saja, mana mungkin! Jaman sekarang masih percaya yang begitu.”
Hot Chapters