Bukan Surga Impian
Perempuan yang duduk di seberangnya mengangguk dua kali, lengkungan senyumnya—mengiringi tangan Jenna untuk menyerahkan sebuah berkas berisi naskah ceritanya.
“Aku senang kamu produktif seperti ini, Jenn. Sudah sepatutnya memang, penulis populer seperti kamu melakukan hal seperti ini.” Jenna, perempuan itu mengusap tengkuknya pelan—atas ucapan yang mengandung pujian dari Widia.
“Jangan berlebihan, Widia. Aku belum seterkenal itu,” kata Jenna tersenyum kikuk.
“Loh? Pada kenyataannya memang begitu kok. Tahun ini, kamu itu salah satu penulis populer di Indonesia.” Hah, rasanya Jenna ingin terbang jika selalu dipuji-puji begitu.
الفصول الرائجة