Samaran Terakhir
Dari kejauhan, terdengar suara ketukan mesin tik pelan, lambat, lalu semakin cepat.
Mendetak seperti detak jantung.
Tiba-tiba, ruang kosong itu terbuka seperti buku. Lembaran-lembaran tak terlihat mulai melipat dan membentuk tangga, membawa mereka naik ke satu titik terang, tempat di mana pena perak Adrian mulai bersinar keras.
Pena itu melayang sendiri, menulis di udara:
“Tulisan ini harus diakhiri. Atau ia akan menulis ulang dirinya.”