Ibu Susu Bukan Pengganti
Perut Denada sudah semakin membesar, dia juga sulit berjalan dan harus berhati-hati ketika berjualan karena kalau tidak, maka akan berakibat fatal kepada janinnya.
"Aduh, kenapa ini? Kok rasanya beda, ya?" batin Denada dengan memegang perutnya yang sudah membuncit itu. Dia duduk di lantai ruang tengah kontrakkan, bersandar pada dinding dengan napas yang mulai tersengal. Tangan kirinya memegang sisi perut sedangkan tangan kanan mengelus permukaan lantai yang dingin, dia berusaha menahan rasa nyeri yang baru saja datang. Hari itu cuaca panas, tapi tubuhnya terasa dingin.