AKU BUKAN SEORANG PELACUR
“Bisakah kita hanya pergi berjalan kaki dahulu? Aku belum mau pulang.”
Dia mengamatiku, cukup lama. Namun, lantas mengangguk, kembali tersenyum.
“Mau pergi ke taman?”
“Taman?”
“Di samping pertigaan itu, ada taman kecil,” tunjuknya, ke sebuah pertigaan yang tidak terlalu jauh dari toko roti ini, mungkin hanya berjarak sekitar seratus dua puluh meter. “Taman itu selalu ramai, bahkan di malam hari. Di sana juga ada banyak pedagang kaki lima yang menjual minuman, dan makanan-makanan murah, tetapi enak. Mau ke sana?” Penjelasannya cukup detail untukku yang sedikit masih mewaspadai diri kalau-kalau tempat itu sangat sepi, kemudian muncul beberapa orang preman mabuk atau sekelompok lelaki jahat yan