CEO Dingin Itu Mentor Bercintaku
Tidak Lola, tidak Akash, keduanya sama-sama punya pertanyaan identik yang memicu stres Gista.
“Bikin narasi tatapan,” sahut Gista.
Akash membawa dua piring pasta ke sofa. “Wine-nya, tolong. Apa yang jadi kesulitanmu?”
“Deskripsi dan narasi. Plot kali ini nggak butuh banyak dialog.”
Akash melirik Gista. Dia menatap Gista. Mata mereka bertemu. Tak ada lagi kata-kata, hanya tatapan yang berbicara.
Perlahan Akash menggesekkan jempolnya di punggung tangan Gista. Gerakannya lambat, teratur, memancing Gista untuk fokus pada sensasi kecil itu.