Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
SANG PEWARIS

SANG PEWARIS

Setelah makan malam dan sesi bakar marshmallow, Elkan menggelar papan permainan baru di atas meja kayu lipat. Sebuah permainan yang dibuat khusus oleh Haniyah dengan kartu berwarna yang dilengkapi kata-kata dan ilustrasi kecil yang diberi nama "Cerita Berantai". "Sudah kenyang, saatnya main," ucap Elkan sambil mengocok tumpukan kartu.
2.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai puisi berantai
Baca
+Pustaka
Satu Malam dengan Raja Naga

Satu Malam dengan Raja Naga

Tak ada yang bicara soal benteng. Yang mereka lakukan adalah… duduk bersama, menyalakan api kecil, dan menulis satu kalimat baru, yang ditaruh di tengah lingkaran: "Jika kau datang dengan rasa takut, kami tak akan menambahnya. Jika kau datang dengan marah, kami tak akan membalas. Tapi jika kau datang untuk menghancurkan— kau akan tahu bahwa yang tumbuh perlahan…
101.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 51 kali sebagai puisi berantai
Baca
+Pustaka
Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana

Sekali Putri Jahat Pergi, Para Pria Akan Merana

Kepiawaian Vajra dalam memetik instrumen berdawai itu memang bukan isapan jempol semata. Mendengar iringan yang begitu indah, kepercayaan diri Candrani melonjak. Ia menarik napas dalam, lalu mulai membacakan bait pertama dari puisinya yang berjudul "Cahaya Candra di Balik Mega." Puisi itu berkisah tentang Dewi Bulan yang sinarnya dihalangi oleh kabut tebal kiriman Dewi Kegelapan.
1014.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 388 kali sebagai puisi berantai
Baca
+Pustaka
KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

KEMBALINYA DEWA NERAKA: Hutang Darah Empat Klan

“Sangluo, Tiga Jari Alam Misterius!” “Hamparan Kesunyian Gurun Raya, Jari Pembantai Keabadian!” Dua teriakan menggema bersamaan. Spiritual Qi langit dan bumi terus berkumpul di kehampaan, memadat menjadi delapan puluh satu rantai True Qi. Namun, rantai-rantai itu tidak langsung menyerang Lu Xiao seperti sebelumnya. Kali ini, semuanya berkumpul dan berubah menjadi rantai emas raksasa dengan Yang Kai sebagai pusatnya.
1010.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 206 kali sebagai puisi berantai
Baca
+Pustaka
Jejak di Balik Pesantren

Jejak di Balik Pesantren

Frasa yang Tidak Pernah Diakhiri Di dunia yang telah mulai membebaskan diri dari struktur lama, Lena dan Kai duduk di tengah puing-puing perpustakaan yang dulu tertutup, kini terbuka tanpa batas. Kalimat-kalimat yang dulu terputus mulai menyatu kembali tetapi bukan sembarang penyatuan. Mereka membentuk pola, ritme, dan arus. Sebuah suara lama muncul kembali, pelan dan menggetarkan: > “Kalian menulis ulang... tapi adakah yang kalian sadari bahwa aku tidak pernah pergi?”
2.6K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 58 kali sebagai puisi berantai
Baca
+Pustaka
Selamat Malam, Tuan Ares

Selamat Malam, Tuan Ares

“Aku punya bunga merah yang mekar, seperti desahan lembut, tapi bisa juga seperti api yang membara.’ “Kita berbagi gelombang dingin, angin, cahaya, dan guntur; Kita berbagi kabut, gunung, dan pelangi. Seolah-olah kita selalu terpisah tapi saling mendampingi seumur hidup.” Tangan Jay yang terangkat di udara berhenti. Ia tertarik dengan puisi itu. Ia ingat pertama kali Angeline membaca puisi itu.
9.43.0M DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 69.0K kali sebagai puisi berantai
Tampilkan Ulasan (884)
Baca
+Pustaka
Syadia Lydia Kurui
Ada kalahnya cerita ini mendatar..tapi Ada kalaNya sangat membuat pembaca berimosi..mengikut rentak cerita.. saya suka membacanya..walaupun cerita terkadang rumit untuk saya fahami bahasanya.. cerita Yang sangat panjang..tapi best......️...️...️ apakah cerita ini Akan Di nasihatkan?
Lia Wu
pengen baca tapi bab nya buanyak banget, udah mager duluan takut muter muter banyak drama,,, tang udah baca spill donk, didalamnya ada 2 cerita atau cuma 1, biasanya kan nyambung sama kisah percintaan anaknya
Baca Semua Ulasan
Rimba Memburu Senala

Rimba Memburu Senala

Saram dikenal bukan karena banyak bicara, tapi karena satu antologi puisi berjudul Tanah yang Menolak Diam. Puisi-puisi dalam antologi itu bukan sekadar kata-kata: mereka menggugah lapisan realitas. Salah satunya, “Nyanyian Retakan Ketiga,” dibacakan secara tak sengaja di Balairung Batu saat musim kekeringan. Sesaat setelah bait keempat, tanah di bawah Tilangkar retak perlahan, mengalirkan air asin dari dalam bumi yang diyakini telah mati. Warga menyebutnya air kenang, karena baunya memancing ingatan orang-orang akan tempat yang tak pernah mereka kunjungi, tapi mereka rindukan.
101.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 50 kali sebagai puisi berantai
Baca
+Pustaka
Pendekar Kera Sakti

Pendekar Kera Sakti

"Ada seseorang yang membantai habis anak buahku. Ia menggunakan sebuah lentera!" "Sebuah lentera!" guman Embun Salju dengan dahi berkerut. "Bagaimana maksudmu? Sebuah lentera dipakai membunuh?" "Benar. Lentera itu adalah jebakan. Lentera itu dilapisi racun ganas, siapa yang memegang lentera itu akan termakan racun ganas. Tak sampai lebih dari seratus helaan napas, orang itu akan mati. Dan mayatnya mengeluarkan banyak keringat berbau amis darah. Siapa menyentuh mayat itu, dia akan ketularan dan mati pula dalam keadaan sama seperti korban sebelumnya. Jadi racun itu adalah racun berantai, satu kali mengenai orang, bisa empat-lima orang yang mati bersamanya."
1030.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 946 kali sebagai puisi berantai
Baca
+Pustaka
SOPIR PRIBADIKU TERNYATA MILIARDER

SOPIR PRIBADIKU TERNYATA MILIARDER

Di pagi yang semakin cerah, Keira memutuskan untuk menulis sebuah puisi—kata-kata yang mengalir dari dalam hatinya, mencurahkan segala perasaan dan harapan. Ia menuliskan tentang malam-malam yang penuh keraguan, tentang cinta yang menantang segala rintangan, dan tentang janji yang terpatri dalam cincin di jarinya. Adrian membaca puisi itu dengan saksama, matanya lembab karena terharu. “Kata-katamu begitu indah, Keira. Mereka bercerita tentang keberanianmu dan tentang harapan yang kau miliki. Aku ingin selalu menjadi bagian dari setiap baitnya.”
104.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 155 kali sebagai puisi berantai
Baca
+Pustaka
Menjadi Ibu Pengganti Anak Kembar Milyuner Tampan

Menjadi Ibu Pengganti Anak Kembar Milyuner Tampan

Meluahkan perasaan yang mengharu biru lewat goresan. Hanya dalam lima menit, sebuah puisi yang diberinya judul : Withered, Scattered, akhirnya selesai. Dia meletakkan kertas tersebut, lalu membaca rentetan kalimatnya berulang-ulang. Makin dibaca, makin sedihlah dia. Seolah rangkaian kata berima ini memantulkan kesedihan hati yang sesungguhnya. "Sepertinya, cukup bagus." Dia bergumam dalam kesendirian.
107.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 278 kali sebagai puisi berantai
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1234567
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status