Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan

Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan

Suaranya bukan karena ragu akan kemampuan, melainkan menawarkan opsi, selalu ada jalan diplomasi bahkan dalam perang. Alex menoleh, matanya menancap pada Abas. Tatapannya dingin dan tajam, seperti yang kerap ia gunakan untuk mengukur kesetiaan orang. “Apa kamu nggak mampu melawannya, Abas? Apa kamu pikir aku pecundang?” Suaranya singkat, menegaskan harga diri dan strategi. Bukan hinaan, melainkan tantangan untuk tidak berpikir kecil.
103.0K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 60 kali sebagai puisi demokrasi
Baca
+Pustaka
Siasat Sang Penguasa

Siasat Sang Penguasa

"Yang mulia pangeran, Kekaisaran ini sejatinya tak lain dari sebuah delusi semata." Arga berjalan mendekati bangku Wirya, dia tengah menjelaskan sejarah-sejarah kelam kerajaan. "Sederhananya, seperti alat penghubung antar manusia. Namun untuk para rakyat jelata dan budak, mereka tak memerlukan pangkat tinggi dari kebebasan sejati." sedangkan, Wirya berfokus pada semua penjelasan materi.
1010.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 357 kali sebagai puisi demokrasi
Baca
+Pustaka
Hidup Kembali di Zaman Kuno

Hidup Kembali di Zaman Kuno

Guru: "Sastra bukan sekedar untaian kata. Ia adalah cermin jiwa dan perjalanan zaman. Nah, siapa di antara kalian yang dapat menjelaskan makna bait pertama ini?" Seisi kelas diam, hingga Raka mengangkat tangan dan mulai berbicara dengan lancar. Raka: "Puisi ini bukan sekedar mengisahkan keberanian, tapi juga pengorbanan. Seorang pemimpin sejati bukan hanya menggenggam pedang, tapi juga berpikir jauh ke depan. Seperti pepatah, 'Mata pena lebih tajam dari mata pedang.'"
1012.0K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 457 kali sebagai puisi demokrasi
Baca
+Pustaka
Demi Selingkuh, Suamiku Meracuni Anakku

Demi Selingkuh, Suamiku Meracuni Anakku

"Cullen, apa kamu sakit jiwa? Kamu pikir ide ini normal? Selingkuh ya selingkuh, jangan sok suci!" "Selain itu, kamu kira kamu masih punya aset untuk anak? Kamu kira aku nggak tahu perusahaanmu sudah lama menghadapi masalah keuangan? Semua ini cuma alasanmu untuk selingkuh! Cepat tanda tangani surat itu! Kita selesaikan semua ini!"
6.9K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 180 kali sebagai puisi demokrasi
Baca
+Pustaka
OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua

OBSESI TERLARANG : Sentuh Aku, Ayah Mertua

Di sampingnya, Jeremy Hilton tampak tegang, berkali-kali merapikan kerah kemejanya. "Partai Biru tidak dibangun di atas fondasi pasir," suara Alex menggelegar melalui mikrofon, meredam bisik-bisik spekulasi di ruangan itu. "Teror di Miracle Hotel adalah upaya pengecut untuk membungkam demokrasi. Kami tidak akan mundur satu langkah pun dari pemilu ini." Saat Alex melangkah keluar, puluhan wartawan menyerbunya bagaikan serigala lapar.
1011.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 444 kali sebagai puisi demokrasi
Baca
+Pustaka
Di Kehidupan Kedua, Nona Shu Yi Akan Menuntut Balas!

Di Kehidupan Kedua, Nona Shu Yi Akan Menuntut Balas!

Kata Damai tertera jelas. Kali ini, Shi Zhen mencuri kesempatan. [Kalau damai memang ada, dengan apa dia diukur? Perut kenyang, hati lapang] Dewan juri bertepuk tangan. Puisi ini menyentuh lapisan terdalam diri manusia. Rakyat damai jika tidak kekurangan makan. Hati mereka jadi lapang kalau tak perlu merisaukan hari esok.
1022.4K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 762 kali sebagai puisi demokrasi
Baca
+Pustaka
Bukan Sekelumit Sesal

Bukan Sekelumit Sesal

Kesalahanku berlapis tak sanggup kutepis Dalam barisan hari aku diselimuti pesimis Penyesalanku berawal bagai gerimis Kecil rintiknya semakin kuat mengikis Berharap dosa dibasuh hujan tangis Maaf dan pengampunan… aku mengemis Ditatap binar mata mereka bagai pelangi yang terlukis Egoiskah keputusanku yang pragmatis Ardan termenung setelah membaca bait puisi yang ditulis putranya. Ia tahu jika Akram sering menyalurkan hobinya menulis puisi atau syair saat senggang. Sejak kecil, menjadi penulis memang menjadi impiannya.
9.29.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 201 kali sebagai puisi demokrasi
Baca
+Pustaka
KUKEMBALIKAN SUAMI PADA CINTA PERTAMANYA

KUKEMBALIKAN SUAMI PADA CINTA PERTAMANYA

Izinkan aku mencintaimu dalam diam Karena dalam diam tidak ada kata penolakan Izinkan aku mencintaimu dalam kesepian Karena dalam kesepian tidak akan ada orang lain Izinkan aku memujamu dari kejauhan Karna dari kejauhan akan melindungiku dari rasa sakit Izinkan aku memilikimu dalam mimpi Karena dalam mimpi kamu tidak akan pernah meninggalkan aku Tahukah kalian? Puisi itu coretan dari sahabat dumayku yang tak pernah bersua langsung, Qeisyah. Namun, begitu mencubit kepekaanku. Entah itu hanya hasil karya tangan biasa atau sedang mencurahkan hati sebenarnya. Yang jelas, rangkaian kata itu mewakili rasaku yang telah bertahun bertahta. Wahai ...
9.757.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 1.2K kali sebagai puisi demokrasi
Baca
+Pustaka
Hamil Anak Calon Wakil Presiden

Hamil Anak Calon Wakil Presiden

suaranya menggema, setiap kata terasa seperti palu godam yang menghantam jiwa, "ada banyak aturan yang akan saya ubah. Salah satunya adalah aturan mengenai demo." Ia berhenti sejenak, memberikan waktu bagi rasa cemas untuk menjalar di setiap sudut ruangan. Ia tersenyum tipis, senyuman yang lebih mirip lubang jebakan yang siap menelan siapa saja. "Pendemo," lanjutnya, suaranya penuh dengan nada ancaman yang tegas, "artinya adalah pemberontak. Dan pemberontakan harus dihukum sebagaimana kita menghukum teroris."
102.8K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 97 kali sebagai puisi demokrasi
Baca
+Pustaka
Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia

Demi Dendam, Aku Menikahi Raja Mafia

Gedung-gedung tinggi perlahan berganti dengan jalan yang lebih lengang. Dimitri membuka telapak tangannya. Flash drive hitam itu masih berada di sana. Bentuknya sederhana. Nyaris tak memiliki ciri khusus. Namun justru kesederhanaan itu membuatnya terasa lebih berbahaya. Ia memutar benda kecil itu beberapa kali sebelum memasukkannya kembali ke dalam saku tersembunyi di balik jasnya. "Kita tidak akan membukanya malam ini."
240 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 6 kali sebagai puisi demokrasi
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
345678
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status