Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
KEMBALINYA SANG RATU

KEMBALINYA SANG RATU

"Pahlawan mati, puisi abadi!" Puing-puing Stasiun Luar Angkasa Internasional berputar di sekitar mereka, membentuk konstelasi wajah pemimpin G7 yang terdistorsi. Planetoid retak bertuliskan "Demokrasi" tertusuk antena rusak, "Pasar Bebas" terbelah dua oleh serpihan kaca, sementara "Hak Asasi" mengambang sebagai kubus besi berkarat yang dipenuhi cacing-cacing data. Lintang merentangkan tangan, daun-daun galaksi dari tubuhnya menyemburkan partikel anti-materi. "Kalian Barat hanya hantu yang menari di panggung usang!" teriak Black Sun, akar-akar algoritmanya mencengkeram bulan hingga retak seperti telur dinosaurus.
3.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 82 kali sebagai puisi suara demokrasi
Baca
+Pustaka
Kau Peras Peluhku Demi Madu

Kau Peras Peluhku Demi Madu

tanyaku. Diam dan hening melanda suasana kami, Yahya masih memandangku penuh kasih. Lalu diurainya pelukan, dia sedikit bergeser duduknya. Kini lelakiku itu duduk menghadapku. Aku menunduk, jariku masih sibuk melipat baju. "Kamu pasti tahu arti poligami bagiku, Arini. Dan sudah aku tegaskan bahwa poligami ini sangat penting bagiku, ini adalah salah satu caraku untuk berdakwah," papar lelakiku.
1030.2K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 784 kali sebagai puisi suara demokrasi
Baca
+Pustaka
My Beloved Partner

My Beloved Partner

Puisi itu berbunyi: Di antara sejarah dan darah pahlawan, Ada degup yang tak bisa kuabaikan. Tak ada merah putih di dadaku selain wajahmu yang selalu tenang. Untukmu, guru berjas abu-abu… Pak Taka mengernyit. “Ini puisi... romantis?” Laras maju ke depan dengan cepat, “Itu... karya fiksi, Pak! Kami mau menunjukkan bahwa nasionalisme bisa disisipkan dalam bentuk rasa cinta!”
103.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 81 kali sebagai puisi suara demokrasi
Baca
+Pustaka
KISAH GLORY : Panglima Perang

KISAH GLORY : Panglima Perang

Mereka tercengang, seharusnya yang bicara demikian adalah seorang Raja! “Demokrasi ... Impian besar kita adalah kedaulatan berada di tangan rakyat. Suara rakyat adalah suara tertinggi. Buruknya demokrasi adalah suara orang bodoh dan lemah sama seperti suara orang pintar dan kuat. Apa kalian yang merasa sebagai orang pintar dan kuat, lantas mau disamakan dengan orang bodoh dan lemah? Bagaimana? Bentuk pemerintahan demokrasi hanya membuka ruang lebar bagi orang-orang bodoh dan korup untuk menguasai negeri ini!”
3.3K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 95 kali sebagai puisi suara demokrasi
Baca
+Pustaka
Demi Anak Suamiku, Kurela Jadi yang Kedua

Demi Anak Suamiku, Kurela Jadi yang Kedua

PUISI SATIR TENTANG YANG LUKA DIA TERBANG TAPI TAK PUNYA SAYAP KARENA DEMIKIAN SEKARANG IA SUDAH MERAYAP SAYANGNYA IA TIDAK MERAYAP SESUAI TEMPAT SEHINGGA DEDAUNANNYA ITU JATUH TERLEBIH DAHULU SEBELUM DIRAPAT JIKA DEDAUNANNYA SUDAH RUNTUH APALAH DAYA SEBUAH BUAH YANG TIDAK MEMPUNYAI ALAT FOTOSINTESIS SEBAGAI RUMAH YANG MEMBERINYA BUTUH TENTU BUAH ITU TAK JADI SEGAR TENTU BUNGA ITU TAK JADI MEKAR MEMANG SEBUAH KEJAHATAN TIDAK AKAN LARI DARI PENANGKAPAN MEMANG YANG BAIK ITU AKAN SELALU MENDAPATKAN CELAH KEMENANGAN
103.3K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 124 kali sebagai puisi suara demokrasi
Baca
+Pustaka
Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan

Demi Ibu, Aku Jual Keperawanan

Suaranya bukan karena ragu akan kemampuan, melainkan menawarkan opsi, selalu ada jalan diplomasi bahkan dalam perang. Alex menoleh, matanya menancap pada Abas. Tatapannya dingin dan tajam, seperti yang kerap ia gunakan untuk mengukur kesetiaan orang. “Apa kamu nggak mampu melawannya, Abas? Apa kamu pikir aku pecundang?” Suaranya singkat, menegaskan harga diri dan strategi. Bukan hinaan, melainkan tantangan untuk tidak berpikir kecil.
103.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 66 kali sebagai puisi suara demokrasi
Baca
+Pustaka
Demi Dirinya Kau Meninggalkan Aku?

Demi Dirinya Kau Meninggalkan Aku?

Ada banyak jenis ragam bunga di sana. Bruk …. “Eh aduh … maaf. Enggak sengaja. Sayang, anak manis jangan nangis ya. Bibi punya permen,” cepat Roya berusaha menyita perhatian lelaki kecil yang terhitung sudah dua kali ditabraknya itu. “Ini perempen buat Faqih. Ayo ambil, jangan takut.”
1.5K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 41 kali sebagai puisi suara demokrasi
Baca
+Pustaka
Bentala dan Nabastala

Bentala dan Nabastala

“Aku Ingin, karya Sapardi Djoko Damono Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Dengan kata yang tak sempat diucapkan Kayu kepada api yang menjadikannya abu Aku ingin mencintaimu dengan sederhana Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada,” Suara Garda membuat suasana kelas sunyi senyap, para penghuni kelas memekik dan tersenyum tertahan. “Bagus sekali Garda! Pembacaanmu seperti dari hati! Penjiwaan kamu baik sekali!” puji Bu Sri dan Garda mendapat tepukan dari teman sekelasnya.
2.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 54 kali sebagai puisi suara demokrasi
Baca
+Pustaka
BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

Kata-kata itu meledak dengan semangat pemberontakan, kesepian, dan kejujuran yang brutal—hal-hal yang tidak pernah ia temukan dalam puisi-puisi kekaisaran yang membosankan dan penuh basa-basi. Sori terduduk lemas di kursi. Harga dirinya sebagai penyair terkenal di Bakkara runtuh seketika. "Hanya dengan satu kalimat ini..." bisiknya dengan suara serak, "setidaknya aku akan terbayang-bayang sepanjang hidupku. Bagaimana bisa dia menuliskan jiwa manusia hanya dalam empat kata?"
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 34 kali sebagai puisi suara demokrasi
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
123456
...
8
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status