Filter By
Updating status
AllOngoingCompleted
Sort By
AllPopularRecommendationRatesUpdated
Neng Zulfa

Neng Zulfa

“Lomba jasmani suduh cukup seperti tahun lalu saja, tapi di bidang kerohanian, selain lomba banjari, qiro'ah, lalaran, pidato, ceramah, lukis dan kaligrafi, kita bisa menambahkan baca atau cipta puisi juga membuat cerpen.” Zulfa yang tadinya bertanya pun tersenyum lantas mengangguk, “Ide yang bagus, Zi,” katanya kemudian menatap sekitar. “Mbak-mbak yang lain bagaimana? Setuju juga, atau, ada yang merasa keberatan dengan ide yang satu ini?” Semuanya terdiam kemudian saling pandang. Entah terlihat takut atau ragu. Ekspresi itu berbaur di wajah-wajah santri putri itu.
106.5K viewsOngoingIdinagdag sa Library 168 Beses bilang puisi hari santri nasional
Read
+Library
menjadi yang kedua

menjadi yang kedua

Letak nya tak terlalu dekat dengan jalanan setapak yang biasa di lewati para santri dan beberapa warga desa yang ikut ngaji rutin kitab Mukhtar dan tafsir jalalain. Hari ini adalah hari Jumat, dimana hari yang begitu menyenangkan bagi sebagian santri. Hari di mana mereka sedikit terbebas dari segala hiruk piruk jadwal pondok yang padat merayap. Ya, biasa kalau di luar pesantren, hari Ahad adalah hari weekend mereka, tapi bagi santri Al Khudori, weekend mereka, ya, hari Jum'at itu.
2.3K viewsOngoingIdinagdag sa Library 65 Beses bilang puisi hari santri nasional
Read
+Library
Hanya Karena Tak Berpendidikan Tinggi

Hanya Karena Tak Berpendidikan Tinggi

Karena sekaligus dies natalis sekolah, maka tak hanya tarian yang ditampilan, namun juga persembahan lainnya, termasuk kini ternyata ada beberapa siswi yang akan membawakan sebuah puisi di depan kami. Satu persatu mereka mempersembahkan puisi terbaik mereka. Ada dua orang. Namun ternyata, kami kaget ketika putriku sendiri nyatanya juga akan membawakan sebuah puisi. Aku sama sekali tidak tahu. Sejak kapan Afni bisa berpuitis? Sampai-sampai kini aku pun terkesima sejak awal dia membawakan. Puisi tersebut bertema orang tua. Semakin kagumnya, dia menyebut keempat orang tuanya di puisi tersebut. Dia punya ayah, mama, papa dan juga ibu. Aku sampai terharu mendengarnya.
1071.6K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 2.0K Beses bilang puisi hari santri nasional
Read
+Library
Gairah Cinta CEO dan Peramalnya

Gairah Cinta CEO dan Peramalnya

Pagi: “Menulis Puisi Kehilangan” Sesi pagi ini dipandu oleh Mbak Nisa, seorang penyair yang juga pernah mengalami kehilangan mendalam. Ia meminta semua peserta menulis puisi tentang orang yang telah pergi—bukan untuk meratapi, tetapi untuk merayakan cinta yang pernah ada. Anya menulis perlahan, kata demi kata. Puisinya sederhana, tapi penuh kejujuran: Aku pernah menunggumu pulang,
102.1K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 48 Beses bilang puisi hari santri nasional
Read
+Library
Lebih dari selamanya

Lebih dari selamanya

Siapa gerangan yang berhak bersanding denganmu? Aku hanyalah Senja yang selalu takut mendekatimu... Berharap ketika kau membenciku... Pantaskah aku memperjuangkanmu? Puisi sang Senja yang sedang merindu. Ia tulis di sebuah kertas dengan pena pemberian raja sewaktu ia mengikuti sayembara puisi untuk sang putri. Ia sangat dekat dengan raja tapi tidak tahu maksud kedekatan itu karena memiliki perasaan dengan sang putri. Sayembara itu hanyalah hadiah berupa uang bagi rakyat jelata sepertinya. Ibunya menjadi dayang. Ayahnya menjadi Prajurit. Sedangkan dirinya hanya bisa membantu kedua orang tuanya jika ada bantuan. Kalau ditanya hobi, ia memiliki hobi memandang sang putri. Sementara cita-citanya
105.2K viewsOngoingIdinagdag sa Library 113 Beses bilang puisi hari santri nasional
Read
+Library
Terjebak Mantra!

Terjebak Mantra!

Artinya, sebuah sejarah tidak lepas dari kepentingan sesuai zamannya atau setidaknya akan menemukan kabegjan seiring waktu berjalan. Sebagai sample sederhana, peringatan Hari Santri menjadi gambaran nyata akan sejarah yang terpendam, alih-alih ingin dilupakan. Penetapan hari santri, tidak lepas dari peran pemangku kekuasaan yang menerima sejarah perjuangan para santri dan ulama atas jasanya kepada Republik ini.
1010.0K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 320 Beses bilang puisi hari santri nasional
Read
+Library
Rasa

Rasa

Malam itu, Abian tidur sedikit terlambat, dan tak tepat waktu. Hari pun, silih berganti. Setelah dua hari lamanya, tak belajar efektif seperti hari-hari yang lain, ini adalah hari ketiga setelah lomba itu dilaksanakan. Pada hari dan tanggal itu, para santri mendapat giliran untuk menghubungi orang rumahnya dengan menggunakan handphone wali kelas, dan bergiliran satu per satu. Tampak jelas, wajah-wajah yang ceria, riang, dan bersemangat. Setelah lama menyimpan kerinduan , hari itu tiba saat dimana mereka akan membayar hutang rindu tersebut walau tak secara langsung.
104.2K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 100 Beses bilang puisi hari santri nasional
Read
+Library
Suatu Hari, Aku Akan Menjadi Istrimu

Suatu Hari, Aku Akan Menjadi Istrimu

"Siap, Tan! Dadah, tante Gia!" Sepeninggal Gia, San buru-buru masuk ke dalam rumahnya. Dihampirinya Genta yang masih sibuk membetulkan dasi kerjanya. "Papa, hari ini aku gak mau makan nasi goreng," ujar San. Sadar nasi goreng yang dimaksud adalah bekal makan siang anaknya, alis Genta mengkerut bingung. 'Tumben banget San gak mau makan masakan ibu.'
1.5K viewsOngoingIdinagdag sa Library 49 Beses bilang puisi hari santri nasional
Read
+Library
Terlahir Kembali Menjadi Karakter Pendukung dalam Novel

Terlahir Kembali Menjadi Karakter Pendukung dalam Novel

Dia mengunci pintu pagar dan membawa mereka tidur. Meski sudah di tempat tidur, mereka belum langsung tidur. Jiang Xi menggunakan waktu ini untuk mengajarkan mereka menghafal puisi klasik. Puisi yang mudah diingat tentu saja 'Belas Kasihan kepada Petani': Mencangkul di ladang pada tengah hari, keringat menetes ke tanah. Siapa tahu nasi di piring, setiap butirnya penuh dengan kerja keras.
5.6K viewsKumpletoIdinagdag sa Library 145 Beses bilang puisi hari santri nasional
Read
+Library
Dokter Sakti Penguasa Dunia

Dokter Sakti Penguasa Dunia

"Dengarkan baik-baik, judul puisi ini adalah 'Petir'." Nazar menggeleng-gelengkan kepala sambil mulai melantunkan puisinya, "Sekilas kulihat rantai api membelah angkasa, kusangka Kaisar Langit sedang menyalakan bara. Kalau memang bukan asap dari kayangan, mengapa petir menyala berulang di awan?" Ewan sampai ingin langsung melompat dari sini. Karena saat Nazar membacakan puisi itu, suaranya sangat keras sehingga banyak wisatawan di sekitar ikut mendengarnya.
9.51.1M viewsOngoingIdinagdag sa Library 41.8K Beses bilang puisi hari santri nasional
Read
+Library
PREV
1234567
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status