MasukKarena suatu insiden yang tidak disengaja, Gia (26) kembali bertemu dengan cinta pertamanya, Genta (28). Namun, semesta menakdirkan mereka dalam kondisi yang tidak indah. Genta yang sudah menikah, dan Gia yang masih mengharapkan laki-laki itu. Seakan belum cukup, Gia harus menerima kenyataan bahwa Genta adalah tetangga barunya! Hari-hari dilalui Gia dengan mengenal San, anak laki-laki Genta yang berusia tujuh tahun. Meski bertekad ingin move on, tetap saja Gia sering lupa dengan status Genta yang sudah berkeluarga. "Mas, aku cuma mau kenalan, lho. Kamu jangan bersikap seolah-olah kita punya hubungan khusus. Aku kan bukan selingkuhan kamu. Kok kayaknya kamu panik banget ya?" Wanita itu tersenyum licik. Akankah Gia berhasil meluluhkan hati Genta? Atau sebaliknya?
Lihat lebih banyak“Jangan khawatir, ibuku pasti akan menerimamu sebagai menantunya, kalian pasti akan cocok.”
Bisma menggenggam tangan Nirmala yang terasa dingin memasuki rumah mewah keluarganya. “Ma, kenalkan ini Nirmala.” Nirmala berusaha tersenyum semanis mungkin dan mengulurkan tangannya, tapi sampai tangan Nirmala pegal hanya lirikan sinis yang dia terima, “Ma,” tegur Bisma pada sang mama tapi wanita itu hanya menatap Nirmala dengan pongah. “Anak saya punya pekerjaan dan masa depan yang cerah, kamu pasti berusaha sangat keras untuk mengimbanginya.” Setelah apa yang terjadi lebih dari satu bulan yang lalu, dalam mimpipun Nirmala tak pernah membayangkan kalau akan didatangi wanita paruh baya masih cantik itu, sejak awal wanita itu memang tak ramah padanya yang hanya tukang kue. Saat itu Nirmala hanya sedikit heran ibu yang diceritakan Bisma dan wanita yang ditemuinya yang dikenalkan Bisma sebagai ibu memiliki sifat yang berbeda,masih berusaha berpikir positif mungkin saja ibu Bisma memang tak terlalu ramah pada orang yang baru kenal. Jawaban datang minggu berikutnya saat wanita itu bertamu ke rumah Nirmala. Derajat dan tingkat pendidikan yang jauh berbeda menjadi alasan klasik yang selama lima tahun menghantui Nirmala, hingga akhirnya dia menyerah satu bulan yang lalu saat yang ia harapkan mau berjuang bersama saling bergandengan tangan tak mau ia genggam. "Boleh masuk?" Dengan kaku Nirmala memberi jalan pada wanita itu untuk masuk. Tanpa dipersilahkan lagi kursi single yang terdekat dengan jendela menjadi pilihannya, dengan anggun dia duduk di sana meletakkan tas tangan berwarna hitam di atas pangkuannya. "Silahkan duduk Nirmala, santai saja, saya hanya ingin pesan kue,” kata wanita itu, Nirmala hanya bisa menggerutu dalam hati, ini padahal rumahnya. Meski masih kaku Nirmala berusaha untuk duduk dengan tenang di sofa panjang ruang tamu rumahnya, ini rumahnya tempat yang paling aman seluruh dunia tidak ada yang bisa menindasnya, semua akan baik-baik saja. Begitu yang Nirmala tanamkan dalam hati. "Siapa, Mbak?" Nia muncul dari ruang tengah, gadis itu hanya berdiri diam, dia tentu saja mengenali wanita paruh baya yang duduk dengan anggun di ruang tamu rumahnya. "Mau pesan kue apa, Bu?" tanya Nirmala mengabaikan pandangan bertanya adiknya, meski agak sedikit was-was Nirmala berusaha duduk tenang, meyakinkan dirinya bahwa wanita di depannya tak mampu berbuat hal yang buruk padanya. "Ibu dengar kamu pandai membuat berbagai kue basah, meski belum pernah coba, kata Bisma kue buatanmu sangat enak, jadi anggap saja ibu sedang berbagi kebahagiaan denganmu, buatkan lima jenis kue basah terserah yang penting enak masing-masing 100 buah dan akan langsung ibu bayar lunas." "Untuk kapan itu, Bu?" "Hari Minggu pekan depan." "Baik, Bu." Nia mencubit lengan kakaknya yang duduk di sofa panjang bersamanya, gadis itu tak habis pikir dengan kakaknya pesanan kue mereka full booked untuk dua minggu ke depan beberapa hari lalu mereka bahkan menolak pesanan kue dari seorang pelanggan. Apalagi kue yang dipesan tidak sedikit 5 jenis masing-masing 100 jadi mereka harus membuat 500 pcs dan kue basah bukan jenis kue yang bisa dibuat dua tiga hari sebelumnya. Kakaknya sudah gila rupanya. "Oh ya ibu dengar kamu dan Bisma sudah putus hubungan, tapi tidak masalah bukan kalau kamu datang ke rumah ibu hari minggu sekalian mengantar kue, yah mungkin kamu sudah mendengarnya Bisma sudah menemukan orang yang tepat sebagai pendamping hidupnya, dan ibu sangat setuju saat dia mau melamarnya langsung." Nyonya Arlin ibu Bisma tak memperhatikan atau mungkin tak perduli dengan wajah Nirmala yang sudah pias wanita itu terus saja berbicara, memuji calon menantunya yang setara dengan mereka. Nia menggenggam tangan kakaknya erat, dia sangat tau bagaimana perasaan kakaknya saat ini meski kesehariannya cuek dan dingin tapi kakaknya adalah wanita berhati paling lembut yang dia kenal. "Ibu hanya berharap kamu dapat menerimanya dengan ikhlas, hubungan kalian dulu toh tidak memiliki masa depan. Kamu anak baik tapi, ibu hanya ingin yang terbaik untuk anak ibu dan bersamamu bukan yang terbaik untuknya." Nirmala paham dengan alasan yang dikemukan oleh ibu mantan kekasihnya, atau pura-pura paham entahlah... Lima tahun bukan waktu yang singkat Nirmala sudah sangat terbiasa dengan adanya Bisma yang tiba-tiba datang, sekadar ngobrol, atau menjadi kritikus kue buatannya. "Mbak...." "Saya mengerti, Bu. Hubungan saya dan Bisma memang sudah berakhir, dan dia berhak menikah dengan siapapun yang dia inginkan." "Syukurlah kalau kamu tidak akan mengganggu Bisma lagi." "Kakak saya bukan pengganggu, anak anda yang datang mengemis cinta pada kakak saya dan setelah dapat mencampakkannya dengan mudah." Nia tak tahan lagi, dia ikut sakit hati kakaknya diremehkan, mereka memang hanya yatim piatu yang hidupnya mengandalkan tangan dan kaki sendiri, tak punya riwayat gelar berderet yang mengiringi namanya ataupun orang kuat yang siap pasang badan untuk mereka. "Anak saya tidak cinta dengan kakakmu dia hanya tersesat sesaat, kalau dia memang cinta dia akan bertahan meski semua menentang." Yah Meski tak setuju Nirmala mau tak mau harus menerima kenyataan itu, Bisma bisa dengan mudah menggantikannya dengan orang lain padahal mereka baru satu bulan tak bersama, begitu mengecewakan dan mengejutkan tentu saja. "Semoga saja anak ibu segera kena karmanya," gumam Nia pelan tapi masih bisa didengar dua orang yang berbagi ruangan dengannya. "Ap...." "Baiklah, Bu saya akan menerima pesanan ibu, untuk kue apa saja yang perlu saya buat ibu bisa menghubungi nomer ini." Nirmala dengan cepat menuliskan nomornya pada secarik kertas yang memang selalu tersedia di ruang tamu sekaligus mencegah kalimat balasan yang akan dilontarkan wanita paruh baya itu. "Ok, berapa saya harus membayar?" "Kue buatan saya Rp3.000,- tiap piecenya tapi anda tak perlu membayar lunas semua, cukup berikan uang muka sebagai tanda jadi." "Tak apa saya akan membayar lunas langsung saja takutnya kamu nggak ada uang untuk buat kuenya." Nirmala menggenggam tangan Nia kuat memberi isyarat tak perlu menanggapi wanita itu, lalu dengan senyum yang ia usahakan senatural mungkin dia menjawab. "Iya terserah ibu saja." Nyonya Arlin membuka dompetnya yang Nirmala tau harganya setara dengan uang makannya setahun, mengeluarkan puluhan lembar seratus ribuan dari sana. " Ini kamu bisa hitung dulu." "Baik, akan saya hitung." Nirmala mulai menghitung, sebenarnya tanpa menghitungpun dia akan percaya nyonya Arlin tak akan memberi uang kurang dia hanya ingin memastikan. " Iya, Bu sudah tepat satu juta lima ratus.” "Tentu saja uang segitu bukan masalah untuk saya, apalagi ini untuk acara anak saya yang sudah saya tunggu-tunggu." Nirmala hanya diam dan mengabaikan nada sindiran dalam ucapan nyonya Arlin. Dengan anggun wanita itu bangkit sambil menenteng tas mewahnya. Nirmala dan Nia hanya mengawasi sampai wanita itu hilang dibalik pintu dan tak lama kemudian terdengar suara mobil meninggalkan pekarangan rumah mereka. "Apa Mbak yakin akan menerima orderannya? Dia jelas hanya ingin pamer." Nia memandang kakaknya yang masih diam tak bergerak. Dengan menghela nafas berat Nirmala menjawab "Pamer atau tidak itu bukan urusan kita, jualan kue itu pekerjaan kita, asal dia bayar lunas tidak ada masalah." "Tapi, Mbak bagaimana dengan perasaan mbak sendiri apa baik-baik saja? Kalau soal order kita tidak pernah kekurangan." "Mbak baik, Nia jangan khawatir." Nirmala menepuk punggung tangan adiknya menenangkan. "Lagi pula mbak sudah terlanjur terima, dan kita bisa sekalian promosi di acara mereka, kalangan orang-orang seperti mereka sering pesta dan semacamnya yang mengharuskannya memesan kue." Kakaknya memang benar jika itu alasannya orderan yang mereka lakukan terima hanya dari kalangan orang menengah ke bawah yang hanya pada saat tertentu saja butuh kue. Apalagi rencana mereka yang akan membuka toko kue bisa segera terlaksana jika ada orderan yang stabil. Tapi bagaimana dengan kakaknya sendiri benarkah dia baik-baik saja. "Sudah Nia, Mbak baik-baik saja sungguh, ayo lanjut kerja lagi, sebentar lagi kamu ke pasar." "Mbak..." Nia menegur kakaknya yang memandangi handle pintu, Nia tau seminggu sebelum mereka putus Bisma datang ke rumah ini dan Nirmala meminta tolong memasangkan handle pintu itu. Kakaknya tidak baik-baik saja, tidak mudah memang melupakan hubungan yang sudah terjalin lama, tapi dia tak bisa mendesak lagi, entah apa yang akan terjadi nanti? Apa Bisma dan keluarganya bermaksud mempermalukan kakaknya. Nia tak bisa membiarkan ini. “Baiklah mbak, tapi biar Nia yang mengantar nanti mbak di rumah saja.” “Tidak mbak akan ikut.” “Mbak mereka pasti berniat mempermalukan mbak.” “Menjadi tukang kue bukan hal yang memalukan Nia dan mereka harus tahu ituWajah berseri-seri yang dilengkapi dengan senyum manis itu menyapa siapa saja yang ditemuinya di lokasi syuting. Walau hari menjelang malam, aura kebahagiaan terpancar jelas dari mata coklat terang milik Gia hingga setiap orang yang melihatnya sepakat wanita itu sedang bahagia. "Pagi semua!" Gia merentangkan tangan sambil tersenyum lepas. "Pagi kak Gia!" seorang aktris muda yang Gia ketahui bernama Ellen— balas menyapanya dengan senyum ramah. Di ruang istirahat tempat para pemain webseries berjudul 'Mengapa Kau Pilih Dia'— Gia membawakan hampers kecil berisi cookies yang lalu dibagikan oleh Ken dan seorang office boy. Terdapat 5 aktris dan 3 aktor juga beberapa asisten mereka, dan kru webseries yang mendapat hampers dari Gia. Karena ia membawa cukup banyak, Gia menyuruh office boy untuk turut membagikannya ke kru-kru lain di luar ruangan. Selesai dengan tugasnya, Ken beralih ke sebuah sofa untuk mengecek jadwal Gia. Decak kagum saling bersahutan melihat isi hampers Gia
Bunyi denting garpu menjadi satu-satunya suara yang mengisi keheningan di meja makan itu. Kedua orang dewasa yang duduk berhadapan sama sekali tidak menunjukan keinginan untuk berbicara, atau sekedar berbasa-basi menanyakan kabar selayaknya anak dan ibu. Genta meneguk segelas air, sebelum menyingkirkan bekas peralatan makan malamnya ke sisi kiri. Hal yang sama dilakukan tidak lama kemudian oleh seorang wanita cantik berusia 50 tahun— Evelyne Pramudya. Evelyne mengangkat sebelah alisnya melihat gelagat Genta yang gugup. Pria berusia 29 tahun itu adalah putra bungsunya yang paling mirip dengannya. Hanya bedanya, Evelyne memiliki sisi angkuh yang teramat jelas, bahkan jika hanya melihat dari ujung dagunya. “Mami pikir kamu sudah lupa dengan alamat rumah ini," sindir wanita tua berambut merah terang itu. Genta mengangkat wajahnya. Mata tajamnya menelisik penampilan Mami nya yang makin eksentrik. Sudah hampir enam bulan Genta tidak datang menemui Evelyne, dan lihat, gaya Mami nya itu s
“Raf, aku boleh minta tolong? Tolong bawa San masuk dulu,” pinta Gia yang langsung dituruti Rafael detik itu juga. “Ayo, San, ikut Om. Di dalam banyak makanan, lho,” ajak Rafael dengan nada bersahabat. San menerima uluran tangan Rafael yang ingin menggandengnya sambil tersenyum lebar. Anak laki-laki itu menoleh pada Genta untuk meminta persetujuan. Genta mengangguk sambil mengusap lembut kepala San. Selepas kepergian Rafael dan San, Gia mempersilakan Genta untuk duduk di kursi teras depan rumahnya. “Ada apa, mas Genta?” tanya Gia penuh perhatian. Genta tidak langsung menjawab. Perasaan aneh menyelimuti hatinya, dan Genta merasa risih. Padahal ia hanya ingin meminta tolong. Sebagai tetangga yang baik, Gia pasti akan membantunya. Namun lidah Genta terasa kelu. ‘Ck! Tinggal bicara saja’. Rutuk Genta dalam hati. Keterdiaman Pria itu membuat kening Gia mengkerut. “Mas Genta?” panggil Gia sambil menyentuh punggung tangan Pria itu. “Hah? Iya, kenapa?” Genta tersentak. Matanya kemudi
Sudah tiga hari berlalu sejak mereka pulang bersama, dan hampir setiap hari Genta harus memberikan tumpangan pada Gia yang beralasan bahwa mobilnya sedang di bengkel. Meski lokasi syuting terpaut jarak yang lumayan jauh dengan Praz Company, Genta—yang entah sedang kerasukan apa, selalu mengantar wanita itu walau terkadang sambil menggerutu. Genta merasa aneh pada dirinya sendiri. Dia selalu membentangkan jarak selebar mungkin agar Gia tidak mendekati San. Akan tetapi, justru kini ia berada di radius yang sangat dekat dengan wanita itu. "Papa, ada tamu." Genta mengerjap dari lamunannya. San—yang sedang memegang robot transformer miliknya, menunjuk ruang tamu. "Makasih ya, Nak," ucap Genta. Karena dia sama sekali tidak mendengar bel rumah yang berbunyi. "Halo, mas Genta!" sebentuk senyum manis perempuan menyambutnya kala pintu dibuka. Pagi itu Gia memakai croptop putih yang memperlihatkan sebagian perut langsingnya, dengan dilapisi blazer tipis bewarna peach. Melihat penampilan
"Pa, kok tante Gia jarang kelihatan, ya?" Pagi itu di hari libur, Genta yang sedang membantu San merakit lego, mendongak menatap putra satu-satunya. "Sibuk kali, Nak." Genta menjawab sekedarnya. 'Baguslah, akhirnya Nagia tau diri juga'. Batin Genta. San mendecak tidak puas mendengar jawaban Papanya.
Gerimis kecil membasahi permukaan tanah sejak malam hingga pagi saat ini. Rutinitas yang biasa dilakukan Genta dan San di hari weekend—yaitu lari pagi bersama, jadi dibatalkan. Sebagai gantinya, San sibuk merangkai puzzle dengan 100 kepingan yang akan menjadi gambar lukisan Van Googh, di ruang kelua
Sejak semalam, Genta mulai merasa bahwa kesalahan terbesarnya adalah mengenal Nagia Pricilla. Perkenalan di masa remaja yang justru mengubah semuanya. Mengubah kepribadian Gia, dan mengubah masa depan Genta. Andai saja mereka tidak pernah kenal, Gia pasti tidak akan terobsesi dengannya seperti ini.
Rencana makan malam yang ditakuti Gia akhirnya tidak terlaksana. Tepat setelah makanan dihidangkan di meja mereka, Rafael menerima telepon dari Papi nya. Seraya undur diri menerima telepon, Gia sudah menebak kalau sebentar lagi Rafael pasti akan pergi. Dan nanti, Pria itu akan mengajaknya untuk ikut






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.