Filter dengan
Status pembaruan
SemuaSedang berlangsungSelesai
Sortir dengan
SemuaPopulerRekomendasiRatingDiperbarui
BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

BANDIT GUNUNG BERBUDI LUHUR

Kata-kata itu meledak dengan semangat pemberontakan, kesepian, dan kejujuran yang brutal—hal-hal yang tidak pernah ia temukan dalam puisi-puisi kekaisaran yang membosankan dan penuh basa-basi. Sori terduduk lemas di kursi. Harga dirinya sebagai penyair terkenal di Bakkara runtuh seketika. "Hanya dengan satu kalimat ini..." bisiknya dengan suara serak, "setidaknya aku akan terbayang-bayang sepanjang hidupku. Bagaimana bisa dia menuliskan jiwa manusia hanya dalam empat kata?"
101.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 34 kali sebagai puisi kebebasan
Baca
+Pustaka
Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan

Hari Aku Kehilangan, Dia Merayakan

Yulia tanggapi dengan suara pelan, menyusuri kata-kata itu seperti angin laut yang lembut. “Kalau kebebasan besar sulit didapat, kita masih bisa cari kebebasan kecil.” Ia menoleh ke arah laut yang berkilau. “Seperti lautan itu, misalnya.” “Dulu, kalau hidupku terasa sempit, aku akan renang jauh ke tengah. Di dalam air, tubuhku melayang seperti ikan. Rasanya ringan, tenang, seolah semua masalah lenyap begitu saja. Untuk sesaat, pikiranku kosong, dan itu luar biasa.”
8.7327.7K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 10.5K kali sebagai puisi kebebasan
Tampilkan Ulasan (69)
Baca
+Pustaka
Weneedta
Hai .... Mampir ke cerita aku yuk >>> "Antara Kamu dan Putraku". Kisah seorang wanita menikah 30an yg tergoda dengan pria muda pelatih basket putranya. Ceritanya relate dgn kehidupan sehari-hari. Ditunggu ya. Makasih ^_^
Neisya Marchia
Happy ending buat Puspa-Eric & sad ending buat Indra. Karena kalau inget awal2 cerita gimana perlakuan buruk karyawannya Indra ke Puspa di kantor, padahal Indra tau itu tp gak ada respon & pembelaan buat istrinya. Sampai karyawan ngira istrinya itu Wulan bukannya Puspa tapi si Indra tetep aja diem
Baca Semua Ulasan
Aku yang Kau Buang, Kini Tak Bisa Kau Sentuh

Aku yang Kau Buang, Kini Tak Bisa Kau Sentuh

Asri berjalan tertatih, meninggalkan rumah yang belum genap satu tahun ia tinggali. Sedih, marah, akan tetapi ia bisa apa untuk sekarang ini? Jika ditanya apakah merelakan adalah jalan terbaik? Jawabannya, tidak! Sampai kapan pun Asri tidak akan pernah merelakan apa yang menjadi haknya, jatuh pada orang yang salah. “Lihat saja, kebahagian kalian tidak akan berlangsung lama. Sampai mati pun, aku tidak akan pernah ikhlas kalian menari-nari di atas penderitaanku,” gumam Asri.
1014.1K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 338 kali sebagai puisi kebebasan
Baca
+Pustaka
Cinta di Balik Singgasana

Cinta di Balik Singgasana

katanya, suaranya lembut. Ia meraih kain kecil dari pakaiannya. Puisi pendek tertera di sana, ditulis dengan aksara halus Di tepi kolam, bawah ketapang tua, Hati kita bebas, meski dunia menutup. Jika takdir memisah, di bukit ‘kan kutunggu, Dengan melati dan kenanga, untukmu selalu. Raka membaca puisi itu. Jantungnya berdegup keras. “Ini… indah, Gusti,” katanya, suaranya serak. “Aku simpan ini, sebagai pengingat.”
869 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 31 kali sebagai puisi kebebasan
Baca
+Pustaka
SOPIR PRIBADIKU TERNYATA MILIARDER

SOPIR PRIBADIKU TERNYATA MILIARDER

Keira menutup pertemuan malam itu dengan sebuah pesan yang tersimpan rapi di dalam bukunya: "Dalam kegelapan, kita menyalakan obor. Dalam keputusasaan, kita menemukan harapan. Bersama, kita adalah kekuatan yang tak terhentikan—sebuah sinar yang menerangi setiap sudut," "menjadikan setiap mimpi tentang keadilan sebagai kenyataan. Perjalanan kita belum berakhir; ini baru permulaan dari era di mana setiap jiwa bersinar dengan kemerdekaan dan cinta."
104.2K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 130 kali sebagai puisi kebebasan
Baca
+Pustaka
Biarkan Aku Pergi

Biarkan Aku Pergi

"Aduh Almira Kamu kan bisa jalan ke depan gang, di sana banyak yang jualan tuh, Aku capek banget mau istirahat, kalau Kamu beli jangan lupa lebihkan untuk Suami Mu satu ya. " "Aku capek banget Mas, perut Ku keram, mungkin karena banyak gerak dari tadi. " Almira memegang perutnya yang dari tadi terasa tidak nyaman. "Jangan manja lah Almira, ingat sebentar lagi Kamu bakalan jadi Ibu, tinggal beli saja masih minta dibelikan belum Aku suruh masak Kamu, harusnya Kamu beruntung punya Suami kayak Aku ini Almira, lihat tuh para Suami diluar sana, banyak tuntutannya sama Istri harus bisa masak lah, harus pandai dandan lah, harus wangi lah, Aku cuma minta kamu jangan manja aja kok. "
105.7K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 126 kali sebagai puisi kebebasan
Baca
+Pustaka
Ai (Untuk Leo)

Ai (Untuk Leo)

Kau Maha Adil Sang Pencipta Raga dan jiwaku kau wakilkan Hingga kubisa tenang pada waktunya Tunggulah aku semuanya Susulanku segera kalian terima Hingga waktu itu tiba Leo terkesan dengan dengan sajak puisi yang telah ia baca tersebut. Ia yakin, puisi ini memiliki makna tersendiri dan bukan hanya sekedar karangan. Terpikir dalam pikirannya untuk mencari tahu siapa penulisnya. Maka dibukalah lagi lembaran berikutnya. "Berlarilah karena mimpimu, jangan dengarkan perkataan mereka tentang mimpimu, Biarkan mereka tidak tahu, siapa sebenarnya dirimu."
103.9K DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 132 kali sebagai puisi kebebasan
Baca
+Pustaka
Sang Penguasa Mutlak

Sang Penguasa Mutlak

Matahari mulai condong ke ufuk barat. Di sebuah wilayah terbuka yang cukup jauh dari benteng, para tahanan yang berhasil dibebaskan mulai membangun tempat peristirahatan sementara. Beberapa orang mendirikan tenda. Sebagian lainnya mencari kayu untuk membuat api. Ada pula yang mengumpulkan makanan dan air. Setelah bertahun-tahun hidup sebagai tahanan, untuk pertama kalinya mereka bekerja bukan karena diperintah oleh penjaga.
10431 DibacaOngoingDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 15 kali sebagai puisi kebebasan
Baca
+Pustaka
Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih

Kebahagiaan yang Tak Pernah Kuraih

Ujung jari Amelia sedikit bergetar saat menerimanya dalam diam. Begitu membuka halaman pertama, dia langsung melihat tulisan tangan kakaknya yang familiar dan berantakan. [Hari ini Amelia akhirnya belajar memberi hormat. Tangannya memang belum cukup tinggi, tapi matanya bersinar sekali. Ayah, Ibu, aku bakal membuatnya hidup lebih bahagia daripada siapa pun.]
2.5K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 55 kali sebagai puisi kebebasan
Baca
+Pustaka
Badai Berlalu, Bahagia Menyambut

Badai Berlalu, Bahagia Menyambut

"Mereka semua bilang selamat padaku. Selamat apa?" Karyawan itu tampak bingung mendengar pertanyaannya dan menjawab, "Pak Jordy belum tahu? Bu Nindy kemarin bilang di kantor, Erika yang dulu suka mengganggumu mau menikah dengan orang lain hari ini." "Kami pikir Pak Jordy akhirnya terbebas, jadi kami mengucapkan selamat atas kebebasanmu."
4.4K DibacaTamatDitambahkan ke Perpustakaan sebanyak 136 kali sebagai puisi kebebasan
Baca
+Pustaka
Sebelumnya
1
...
5678910
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status