Selir Yang Terlupakan
Udara di ruangan itu terasa hangat namun penuh beban pengakuan yang baru saja terucap.
"Jadi sebenarnya," katanya dengan nada penuh rasa hormat, "kau tak pernah menganggap dirimu sekadar selir, bukan? Kau seperti tamu yang tak mau pergi, sekaligus orang yang menulis aturan sendiri di tempat asing ini."
Matanya beralih ke gelang perak di pergelangan tanganku—benda yang kami beli bersama, yang menandai awal dari kebebasan yang kami temukan hari ini.