Sadena
Sedangkan bagian kanan terbuka walau sempit, ada penghalang berupa kayu yang melintang di bagian bawah, namun setelah Sadava intip, jalan ini merupakan akses langsung menuju gedung tua itu.
"Kamu tuan putri bagi aku, Sha, dan aku nggak akan membiarkan kamu terluka sedikit pun," Sadava merunduk agar leluasa menatap Marsha. "Oke?"
"Makasih, Dav," Kekhawatirannya sedikit memudar. Marsha menaruh yakin pada Sadava atas keselamatannya. "Aku ke sana dulu ya."
"Hati-hati. Ingat aku selalu di sini, Sha. Kalo aku kalah gercep. Kamu tendang aja dedeknya terus lari. Hehe."
Sikat na Kabanata