KUNTILANAK MERAH
“Kalian jangan terlalu larut. Jam malam di sini ketat. Bukan karena corona, tapi... yang lain.”
Raka bertanya, “Tentang kuntilanak merah?”
Desi diam sebentar, lalu duduk di kursi kayu yang berderit pelan. “Dulu... waktu kecil, aku pernah dengar tangisan dari sumur itu. Tengah malam. Ada yang tertawa sambil nyanyi. Katanya... itu suara perempuan yang gagal menikah. Dibunuh saat sedang pakai kebaya merah. Arwahnya nggak diterima bumi, karena dia dikubur sambil hamil. Dia ingin anaknya lahir... tapi nggak bisa.”