SUAMI YANG DIHINA KELUARGAKU
Salah satu dari mereka menggenggam sesuatu, entah batu, entah benda lain, dan tampak bersiap melempar.
“Cepat, jangan sampai kabur!” desis Pak Leman.
Mereka saling mengangguk, lalu dengan langkah hati-hati mundur beberapa meter. Pak Juhri menggedor kentongan kecil yang dibawanya. Tong-tong-tong! Suaranya menggema keras, memecah keheningan malam.
Tak butuh lama, suara langkah-langkah kaki terdengar mendekat. Warga yang terbangun berhamburan keluar rumah, membawa obor, senter, bahkan ada yang menggenggam parang dan kayu.