Selir Yang Terlupakan
Mei Mei segera berlutut di lantai batu, keningnya menempel di permukaan yang dingin, napasnya tercekat di tenggorokan karena gugup.
Kaisar sama sekali tak meliriknya. Seluruh perhatiannya tertuju padaku, matanya menelusuri jepit rambut kupu-kupu perak di rambutku dengan tatapan yang berat dan penuh perhitungan.
"Kau memakai warna biru," ucapnya rendah, seolah baru menyadarinya. "Dan kau berbicara—padahal aku sempat berpikir kau akan tetap diam saja di tempatmu."