KINASIH
Asih bersuci lalu kembali ke kamar dan mendirikan kewajiban empat rakaat isya, sedangkan maghrib sudah dia dirikan saat istirahat bus di rest area.
Di atas sajadahnya, Asih mencurahkan rasa syukur atas nikmat yang dia dapatkan selama ini, tak lupa dirinya menitipkan untaian do'a untuk buah hatinya. Asih terisak saat benaknya kembali teringat perlakuan mertua dan para tetangga, pun dengan sikap Aryo yang sama sekali tak memberi dukungan terhadap istrinya. Asih merasakan sesak yabg teramat dalam, mengingat sang suami yang baik, perhatian, namun selalu saja tak berkutik ketika berhadapan dengan keluarganya, entah orang tua atau saudara yang lain. Bukan sekali dua kali, Asih merasa sendiri, terp
Sikat na Kabanata