Frekuensi Terlarang
Angin laut yang asin menerpa wajahnya, memberikan sensasi dingin yang lebih nyata daripada sistem pendingin mana pun.
Ia melemparkan kailnya ke dalam air, tidak peduli apakah ia akan mendapatkan ikan atau tidak. Baginya, ritual ini adalah caranya untuk tetap waras. Di sini, di pinggir jurang sejarah, ia bisa melihat dunia yang sedang mencoba bernapas kembali. Di kejauhan, ia bisa melihat pendaran cahaya biru dari Sanctuary di lereng Pegunungan Putih. Tempat itu tampak begitu damai, begitu jauh dari bau oli dan kabel yang mengelilinginya.
"Kau melakukan tugasmu dengan baik, Lilia," bisik Silas pada angin.
Hot Chapters