Pernikahan tanpa Bahagia
Laut telah menyaksikan segalanya — kehilangan, doa, cinta, dan keheningan yang tak pernah berhenti ia rangkul.
Pagi itu, kabut turun lebih pekat dari biasanya. Di antara putihnya udara, Naira menyiapkan teh di cangkir keramik biru muda — teh melati, aroma kesukaannya dan juga aroma yang dulu selalu membuat Raka tersenyum. Saat uapnya naik perlahan, ia teringat sesuatu yang Raka pernah katakan dulu, di antara percakapan sederhana mereka di teras panti asuhan:
> “Kau tahu, Naira, kadang orang tidak sadar bahwa dirinya sedang bahagia. Mereka baru tahu setelah bahagia itu pergi.”
Hot Chapters