Seribu Pintu Sindukala
Pepohonan dan bunga-bungaan yang mereka tanam mulai bertumbuh, namun belum banyak yang bisa mereka jual, sementara biaya hidup sehari-hari diambil dari tabungan.
Memasuki bulan Desember, Sindukala kedatangan Muria, teman lamanya sedari SMP. Keduanya duduk berhadap-hadapan di teras depan, mengobrol sembari menikmati teh tawar hangat, sedangkan Marsala melukis di lantai dua, ditemani Raesaka yang menonton televisi sembari mengunyah bola-bola coklat.
“Kamu tinggal di sini, Mur?” tanya Sindukala. Seberkas cahaya matahari sore menyorot wajahnya.
Hot Chapters