Dok, Please Cukup!
Nindy menatap suaminya lewat pantulan kaca jendela di depan mereka, tidak langsung membalas, membiarkan jeda sejenak sebelum melanjutkan.
"Tapi Suryani nulis itu terjadi tiga kali, Malik," ucap Nindy pelan. "Bukan cuma sekali. Topinya sama persis tiap kali dia dateng."
Perubahan di wajah Malik terjadi cepat, rahangnya mengeras, jemarinya berhenti mengetuk sandaran sofa. Reaksi santai yang tadi keluar begitu saja lenyap, digantikan sesuatu yang jauh lebih waspada, seolah kata "tiga kali" itu punya bobot yang berbeda dari sekadar cerita lucu di meja makan.