Bayangin kamu pegang kunci ke dunia lain: itulah perasaan yang pengin kusampaikan kalau ditanya apa itu cerita fantasi.
Untukku, fantasi bukan sekadar ada naga atau penyihir — tapi soal menciptakan rasa takjub yang masuk akal. Dunia baru itu harus terasa hidup: ada sejarahnya, aturan mainnya (termasuk bagaimana sihir bekerja atau kenapa makhluk ajaib punya batas), dan konsekuensi atas tindakan tokoh. Kalau aturan itu konsisten, pembaca rela percaya pada hal-hal paling gila sekalipun. Di sini peran karakter penting: mereka harus punya tujuan dan konflik yang nyata, biar keajaiban nggak cuma hiasan tapi bagian dari perjalanan batin.
Saat menulis aku sering mulai dari satu ide kecil — misal permainan kata, satu kebiasaan aneh di desa, atau satu benda mistis — lalu mengembangkan dampak sosial dan emosionalnya. Fokus pada indra: bau, suara, tekstur, dan kebiasaan sehari-hari membuat dunia terasa nyata. Hindari info-dump; tunjukkan aturan lewat konflik dan konsekuensi. Kalau pembaca bisa merasakan bahaya, kehilangan, atau kebahagiaan tokoh, maka unsur fantasinya bekerja. Menulis fantasi itu soal menyeimbangkan imajinasi liar dengan logika internal, supaya setiap keajaiban terasa pantas dan bermakna.