Terjerembap dalam Pelarian
Dia terhuyung ke arah bufet, meringis saat rasa sakit menjalar ke tulang rusuknya.
Kata-kata Mawar terngiang-ngiang di benakku seperti gema yang kejam.
“Rangga, kamu terus menikah dan bercerai seperti sedang mengumpulkan stempel loyalitas.”
“Dapat tujuh perangko, terus apa? Yang berikutnya gratis?”
Kata-kata itu menusukku seperti jarum kecil yang tak henti-hentinya, nyaris tak terlihat, tetapi cukup tajam untuk menancap jauh di dadaku.